Perang Rusia-Ukraina Memanas: Drone Ukraina Bakar PLTN Kursk, Zelensky Tegaskan Ukraina Akan Terus Bertahan – Perang Rusia dan Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga setengah tahun kembali menunjukkan eskalasi serius. Terbaru, sebuah serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina berhasil ditembak jatuh oleh militer Rusia, namun insiden tersebut memicu kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kursk di Rusia barat.
Kebakaran tersebut menimbulkan kekhawatiran besar, bukan hanya di Rusia, tetapi juga bagi komunitas internasional mengingat lokasi kejadian berada di kompleks nuklir. Walaupun api berhasil dipadamkan, insiden ini menambah daftar panjang aksi balasan yang memperburuk hubungan kedua negara.
Pihak PLTN Kursk menegaskan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, serta latar belakang radiasi masih dalam batas normal. Namun, serangan ini merusak sebuah transformator tambahan dan menurunkan kapasitas operasi hingga 50% di unit tiga PLTN Kursk.
Rusia tuding ukraina ancam keselamatan nuklir
Penjabat Gubernur Kursk, Alexander Khinshtein, menyebut bahwa serangan drone Ukraina terhadap fasilitas nuklir jelas melanggar konvensi internasional.
“Serangan ini merupakan ancaman bagi keselamatan nuklir dan pelanggaran semua konvensi internasional,” tulis Khinshtein melalui aplikasi Telegram, Minggu (24/8/2025).
Pernyataan itu menegaskan posisi Rusia bahwa Ukraina semakin berani melakukan serangan ke dalam wilayah strategis Rusia, khususnya di hari perayaan kemerdekaan Ukraina yang ke-34. Kremlin menilai langkah tersebut sebagai provokasi yang bisa memperluas konflik ke level lebih berbahaya.
Selain insiden di Kursk, Ukraina juga disebut melancarkan serangan drone ke pelabuhan Ust-Luga di Teluk Finlandia, yang menyebabkan kebakaran di terminal bahan bakar milik perusahaan energi raksasa Rusia, Novatek.
Pernyataan ukraina di hari kemerdekaan
Sementara itu, Ukraina mengklaim serangan balasan ke wilayah Rusia dilakukan karena seruan perdamaian Presiden Volodymyr Zelensky diabaikan.
Dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Ukraina pada 24 Agustus, Zelensky menegaskan negaranya tidak akan menyerah kepada agresi Rusia.
“Beginilah Ukraina menyerang ketika seruannya untuk perdamaian diabaikan,” kata Zelensky.
“Hari ini, baik AS maupun Eropa sepakat: Ukraina belum sepenuhnya menang, tetapi pasti tidak akan kalah. Ukraina telah mengamankan kemerdekaannya. Ukraina bukanlah korban; ia adalah pejuang.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa Ukraina tetap percaya diri bertahan menghadapi Rusia meskipun sebagian wilayahnya masih diduduki. Hingga kini, sekitar 20% wilayah Ukraina termasuk Krimea masih berada dalam kendali Rusia.
Dukungan internasional terus mengalir untuk ukraina
Peringatan Hari Kemerdekaan Ukraina tahun ini juga dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, hadir langsung di Kyiv dan menyatakan dukungan penuh atas perjuangan Ukraina.
Selain itu, pesan solidaritas datang dari berbagai pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Raja Charles dari Inggris, serta Paus Fransiskus. Mereka menekankan pentingnya terwujudnya “perdamaian yang adil dan abadi” bagi Ukraina.
Namun, di sisi lain, Rusia menolak semua usulan gencatan senjata tanpa syarat. Presiden Vladimir Putin berulang kali menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan operasi militer hingga tujuan strategis tercapai.
Rusia balas serangan dengan rudal dan drone shahed
Tak hanya menjadi pihak yang diserang, Rusia juga melancarkan serangan balasan besar-besaran ke wilayah Ukraina. Angkatan udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia menembakkan rudal balistik serta 72 drone kamikaze Shahed buatan Iran dalam satu malam.
Dari jumlah tersebut, 48 drone berhasil ditembak jatuh, namun sisanya menghantam wilayah sipil. Seorang perempuan berusia 47 tahun dilaporkan tewas di wilayah Dnipropetrovsk akibat serangan tersebut.
Serangan Rusia ini memperlihatkan pola perang yang kian bergantung pada teknologi drone dan rudal jarak jauh, yang tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga fasilitas energi serta permukiman sipil.
Dampak perang bagi masyarakat sipil
Sejak invasi dimulai pada Februari 2022, perang Rusia-Ukraina telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang masif.
-
Jutaan orang terpaksa mengungsi, baik ke wilayah lain di Ukraina maupun ke luar negeri.
-
Ribuan korban sipil berjatuhan akibat serangan udara dan artileri.
-
Infrastruktur vital seperti pembangkit listrik, rumah sakit, sekolah, hingga pelabuhan hancur akibat serangan.
-
Krisis energi menghantam Eropa, karena Rusia sempat memangkas pasokan gas ke negara-negara Uni Eropa.
Kondisi ini menjadikan perang Rusia-Ukraina bukan hanya konflik regional, melainkan krisis global yang berdampak pada politik, ekonomi, hingga keamanan dunia.
Prospek perdamaian yang semakin sulit
Upaya diplomasi untuk mengakhiri perang masih menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump sempat berusaha menjadi mediator untuk mempertemukan Putin dan Zelensky, namun hingga kini tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa tidak ada pertemuan langsung yang direncanakan antara kedua pemimpin. Sementara itu, Zelensky menuduh Rusia sengaja memperpanjang perang dengan menolak semua upaya mediasi.
Situasi ini menunjukkan bahwa prospek perdamaian semakin sulit terwujud, setidaknya dalam waktu dekat. Kedua pihak tampaknya masih memilih jalur militer ketimbang kompromi diplomatik.
Ancaman global dari perang berkepanjangan
Konflik Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai membawa beberapa ancaman global:
-
Ancaman nuklir – Serangan ke PLTN Kursk menunjukkan betapa rentannya fasilitas nuklir terhadap konflik bersenjata. Jika terjadi kebocoran, dampaknya bisa meluas ke seluruh Eropa.
-
Krisis pangan – Ukraina adalah salah satu eksportir gandum terbesar dunia. Perang membuat pasokan terganggu, memicu kenaikan harga pangan global.
-
Ketidakstabilan energi – Sanksi terhadap Rusia serta serangan ke infrastruktur energi memengaruhi pasar minyak dan gas internasional.
-
Geopolitik dunia terbelah – Dukungan Barat ke Ukraina dan kedekatan Rusia dengan Tiongkok serta Iran membuat dunia semakin terbagi ke dalam blok-blok kekuatan.
Penutup
Perang Rusia dan Ukraina kini memasuki fase paling berbahaya, di mana serangan lintas batas semakin sering terjadi dan fasilitas vital seperti PLTN Kursk ikut menjadi sasaran. Meski kebakaran berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa, insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan kawasan.
Di tengah perayaan kemerdekaan, Presiden Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerah, bahkan ketika sebagian wilayahnya masih dikuasai Rusia. Dengan dukungan internasional yang terus mengalir, Ukraina berusaha bertahan meski jalan menuju perdamaian masih jauh dari harapan.
Sementara itu, Rusia bersikeras melanjutkan operasi militernya hingga mencapai tujuan strategis. Situasi ini membuat perang semakin panjang, penuh ketidakpastian, dan berpotensi menimbulkan krisis global yang lebih besar.
